Bak pawang, Liga Europa seolah "tunduk" pada Unai Emery. Bila juara lagi 2018/19, UEFA tampaknya perlu berganti nama jadi UEL alias Unai Emery League.

Bila di Liga Champions predikat Mr. Liga Champions lekat pada Cristiano Ronaldo, di Liga Europa ada pula yang mendapat istilah serupa.

Bukan dari kalangan pemain, melainkan pelatih. Unai Emery, dialah Mr. Liga Europa yang dimaksud. Kalau bahasa guyon para fans sepakbola, Liga Europa ini bak liganya manajer kelahiran Spanyol itu: "Unai Emery League", merujuk pada singkatan Liga Europa itu sendiri (UEL).

Tentu, candaan di atas sekadar ingin mendeskripsikan betapa Emery begitu dominan di kancah "liga malam Jumat".

Tiga trofi UEL diraih dalam tiga musim beruntun, siapa yang mau membantah hegemoni Emery di kompetisi kasta kedua Eropa tersebut?

Sekarang, pria 47 tahun itu di ambang menambah koleksi trofi UEL menjadi empat seiring dengan keberhasilannya kembali melaju ke partai puncak di kompetisi tersebut musim ini.

Emery memang sudah mendapatkan reputasi sebagai raja Liga Europa. Namun, bila di musim ini dia kembali mengangkatnya, sang juru taktik akan semakin mengukuhkan statusnya sebagai penakluk Liga Europa.


Berkali-kali pula Emery menegaskan, Liga Europa adalah kompetisi yang tak kalah prestisius dibanding Liga Champions. Bila ada olok-olokan semacam, "hanya sebatas kompetisi nomor dua Eropa", "cuma bermain di kasta kedua Eropa" sampai kalau di Tanah Air diistilahkan "liga malam Jumat", Emery sedari pertama kali memainkan kompetisi ini selalu memasang target serius.

Tak mengherankan bila dia sanggup menjadi kolektor trofi Liga Europa sepanjang berkarier. Bahkan, Emery merasakan ajang ini semenjak format lawas, dari tidak adanya "golden ticket" ke Liga Champions hingga di regulasi terbaru memberikan satu tempat untuk berada di fase grup UCL bagi sang juara.

"Saya pertama kali bertarung untuk titel ini di Valencia, ketika masih bernama Piala UEFA dan merupakan gelar yang kurang bergengsi dari sekarang menurut saya. Titel ini sudah tumbuh," tutur Emery seperti dilansir dari Sky Sports.

"Ini sudah jadi titel penting untuk semua tim yang tak berada di Liga Champions, dan juga untuk beberapa tim yang turun ke turnamen ini sebagai kesempatan kedua," lanjutnya.

"Pertama kali saya memenanginya bersama Sevilla, kami tak mendapatkan akses Liga Champions. Keduanya kalinya, baru kami dapatkan. Itu adalah titel yang atraktif dan semakin atraktif: kita sudah melihat Manchester United, Atletico, Sevilla melawan Liverpool [di final]," kenang Emery.

Grafik kinerja Emery di Liga Europa juga tercatat terus menanjak. Sejak pertama kali berkesempatan untuk tampil di Liga Europa yang dahulu bernama Piala UEFA, dia bisa mengantarkan Valencia lolos ke fase knock-out, meski tersingkir dini di babak 32 besar.

Semusim berselang, pencapaian Los Che meningkat. Emery berhasil mendorong duta La Liga Spanyol itu merangsek ke babak perempat-final. Di musim 2011/12 lebih gemilang lagi. Valencia polesan Emery sukses menjadi semi-finalis. Bekal pengalaman serta jam terbang di Liga Europa benar-benar menempa dirinya.

Bak sebuah bom waktu, "ledakan" kesuksesan Emery pun membuncah di periode 2013 hingga 2016. Sang manajer meraih titel pertama di kancah Eropa setelah membawa Sevilla berada di puncak supremasi pada musim 2013/14.

Keberhasilan di atas berlanjut semusim berselang dengan Sevilla mempertahankan titel Liga Europa. Yang paling terkenang adalah ketika Sevilla merengkuh gelar juara untuk kali ketiga beruntun pada musim 2015/16, kala Emery mampu mempecundangi tim favorit Liverpool dengan skor telak 3-1.

Tiga trofi ini praktis menerbangkan Emery ke singgasana Liga Europa. Berbagai kalangan pun tak ragu untuk "sungkem" padanya jika sudah bicara urusan Liga Europa. Pokoknya, jika ada Emery di Liga Europa, siap-siap yang lain menjadi pecundang.

Emery sempat mendapat kesempatan untuk "naik kelas" ketika menukangi Paris Saint-Germain, klub tajir Prancis yang seketika mengontraknya kala mengetahui sang manajer punya CV mentereng di kancah Eropa.

Namun karena bukan spesialisasinya, Emery gagal memenuhi ekspektasi juara Liga Champions di klub ibu kota Prancis. Meski demikian, reputasi Emery tak serta merta melorot seiring Arsenal kepincut untuk mengontraknya di musim panas lalu.

Gemilang bersama Sevilla, Arsenal memahami pelatih satu ini punya bakat besar. Terbukti, saat kembali berpetualang di Liga Europa musim ini bersama The Gunners, lagi-lagi Liga Europa "tunduk" padanya. 


Tim-tim macam Napoli disingkirkan, dan terbaru Valencia. Kemenangan agregat 7-3 atas bekas klub Emery itu memastikan Arsenal tampil di final Liga Europa musim ini dan akan menghadapi Chelsea, yang di saat bersamaan sukses mengeliminasi Eintracht Frankfurt.

Selama berkarier sebagai manajer sejak 2004, Emery memang baru sekali mencicipi trofi liga kala bernaung di PSG. Tapi perlu dicatat, pria kelahiran Hondarribia ini adalah satu-satunya manajer yang mampu mengklaim tiga trofi Liga Europa. Selain itu, Emery juga menjadi manajer pertama yang sukses memenangkan trofi Liga Eruopa tiga kali secara konsekutif saat bersama Sevilla. 

Selangkah lagi, Emery akan mengukir gelar juara keempatnya di Liga Europa. Jika ini terwujud, mungkin UEFA perlu merivisi nama kompetisi mereka dari UEL, UEFA Liga Europa, menjadi UEL, Unai Emery League, sebagai penghormatan!

Sumber: https://www.goal.com/id/berita/menuju-pengukuhan-uel-alias-unai-emery-league/jaasof9zz5bb1oyh2s1ubred2